MAHASISWA, PEMIMPIN BANGSA?

Oleh : Aulia M Ndoyo

(Menteri KP EM Universitas Brawijaya)

Mereka anak muda pengembara tiada sendiri.

Mengukir reformasi karena jemu deformasi

Dengarkan saban hari langkah sahabat-sahabatmu beribu menderu-deru

Kartu mahasiswa telah disimpan dan tas kuliah turun dari bahu

Mestinya kalian jadi insyinyur dan ekonom abad 21

Tapi malaikat telah mencatat IP kalian tertinggi di seluruh negeri

Karena kalian berani mengukir alphabet pertama dari gelombang ini dengan darah arteri sendiri

(Taufik Ismail)

Jika ada sosok yang menggulirkan sejarah Indonesia secara cepat periode tahun ’66 dan ’98, jika ada gerakan yang bersifat tanpa pamrih menyuarakan kepentingan rakyat secara simultan,jika ada gerakan ekstraparlementer yang tetap teguh memegang idealism perjuangan, maka dia adalah mahasiswa. Mahasiswa adalah kaum elite yang terpilih dari seleksi yang sangat ketat, intelektualitas menjadi jaminan syarat untuk menjadi anggotanya, masa ini menjadi masa emas untuk meningkatkan kapasitas diri. Jika ibarat pendekar, maka kampus adalah wadah candradimuka sebagai wahana untuk upgrade diri.

Di tengah kondisi carut marut bangsa, banyaknya permasalahan yang ada di negeri ini mahasiswa sebagai moral force harus mampu tetap hadir untuk selalu menyuarakan kebenaran. Di tengah tuntutan untuk menyelesaikan akademis, mahasiswa juga mempunyai tanggung jawab moral untuk melakukan perbaikan-perbaikan di tengah masyarakat. Karena sesuai dengan Tri Dharma Pendidikan yang kita amalkan sebagai civitas akademika, pengabdian masyarakat menjadi poin penting untuk selalu dihadirkan dalam setiap aktivitas mahasiswa.

Sesuai dengan fungsinya mahasiswa sebagai agent of cahange, maka mahasiswa harus mampu melakukan perubahan secara mendasar di lingkungannya, perubahan secara konstruktif yang mampu mengahasilkan perbaikan dalam tatanan kehidupan masyarakat. Sebagai agent of control, mahasiswa harus mampu menjadi kontrol dari kebijakan-kebijakan yang dikeluarkan oleh pemerintahan, selalu bersikap kritis dengan budaya intelektual yang tinggi. Namun tidak bisa dipunkiri fungsi sebagai iron stock juga harus dijadikan pedoman, karena mahasiswa harus mampu menjadi cadangan masa depan untuk persiapan menjadi pemimpin-pemimpin bangsa. Ketiga fungsi ini harus mampu dilakukan secara terus-menerus oleh mahasiswa, karena sesungguhnya jika sampai tidak ada ketiga fungsi ini maka sama saja tidak ada ruh dalam diri mahasiswa.

Gerakan mahasiswa yang tanpa ada tendensi kekuasaan, berorientasi pada nilai-nilai kemanusiaan, selalu harus menjadi pegangan, dan tentunya hal ini dilakukan secara terus menerus, seperti yang dikatakan Immanuel Kant,”Bertindaklah dengan cara sedemikian rupa,Sehingga kamu selalu menghormati perikemanusiaan, Entah kepada dirimu sendiri maupun kepada orang lain,Bukan hanya sekali-kali saja, Melainkan selalu dan selamanya”. Sehingga kontribusi nyatanya untuk masyarakat, bangsa dan negara ini selalu mampu dihadirkan untuk dapat menjadi harapan baru.

Di tengah arus globalisasi yang berkembang pesat, dunia pendidikan kita juga mengalami metamorfosa yang cepat dalam bertransformasi. Tingginya biaya pendidikan menyebabkan sebuah output yang jelas, kampus menjadi milik orang yang mempunyai uang saja. Ini berakibat fatal ketika memang proses ini berlangsung berkesinambungan, karena yang dihasilkan dari produk pendidikan adalah orang-orang yang kaya bukan orang-orang yang layak menerima pendidikan. Kehidupan kampus yang dulunya erat dengan budaya intelektual berubah menjadi kehidupan kampus yang mengarah pada kultur hedonisme. Tentunya ini sebuah kontradiksi yang sangat menganga. Ini menjadi pekerjaan rumah bagi setiap mahasiswa yang hadir di kampus untuk dapat memberikan perubahan nyata. Budaya lama yang yang baik harus dipertahankan, ciri khas mahasiswa yang tercermin dari pemikirannya jangan sampai tergerus dengan budaya baru yang justru bersifat destruktif. Tentunya dengan mengambil peran langsung menciptakan proses pembaharuan yang tidak lepas dari nilai-nilai luhur mahasiswa.

Sehingga pertanyaan besarnya adalah apakah kita layak untuk disebut cadangan pemimpin masa depan jika kita masuk dalam lingkaran kultur hedonisme? Tentu saja jawabannya tidak, karena pemimpin bangsa bukan dilahirkan atas candaan dan tawaan tapi dia dilahirkan atas bulir-bulir rasa letih dan beribu-ribu pengorbanan yang selalu menghinggapi dalam setiap episode hidupnya. Siapa yang akan mengambil peran itu?dialah mahasiswa yang sepantasnya menjawabnya.

Akhir kata, seperti lirik dalam Totalitas Perjuangan,...demi mempersembahkan jiwa dan raga untuk negeri tercinta..., semoga memang hal inilah yang akan kita laksanakan segenap kekuatan mahasiswa, memberikan kontribusi terbaik untuk negri kita ini, karena panggilan rakyatlah yang akan memanggil jiwa mahasiswa untuk melakukan perubahan-perubahan, Dia seperti biksu yang ketika ada panggilan dari rakyatnya,dia akan turun dari wilayah pertapaannya

Hidup Mahasiswa, Hidup Rakyat Indonesia!!

Malang, 27 Agusutus 2010