BINGKAI LUKISAN NEGERI

Bukan lautan hanya kolam susu

Kail dan jala cukup menghidupimu

Tiada badai tiada topan kau temui

Ikan dan udang menghampiri dirimu

Orang bilang tanah kita tanah surga

Tongkat kayu dan batu jadi tanaman

Lirik “KOLAM SUSU” karya: Koes Plus

Negeri gemah ri palojinawi, negeriku tercinta. Indonesia, negeri tiada duanya. Koes Plus dengan lagunya tersebut telah memberikan kita gambaran seperti apa Indonesia. Tanah surga yang penuh dengan nikmat-Nya, semua ada di Indonesia. Bahkan tongkat dan kayu pun bisa jadi tanaman. Begitu kayanya negeri kita. Betapa sejahteranya negeri ini. Namun, bagaimana dengan rakyatnya? Jika tanahnya subur, alam telah menyediakan segalanya disini, mungkinkah rakyatnya sejahtera?

Indonesia telah merdeka dalam 65 tahun lamanya, pada kenyataannya tidak ada peningkatan kesejahteraan masyarakat dari tahun ke tahun secara signifikan. Masyarakat Indonesia yang berjumlah 200’an juta jiwa masih banyak yang terlantar. Dalam artian negeri ini seperti kebun buah yang lebat yang tidak dapat mengenyangkan penanamnya. Sampai saat ini, rakyat Indonesia banyak yang tidak mengeyam pendidikan, banyak yang tidak mendapatkan pekerjaan, banyak yang terlunta-lunta dilanda kemiskinan. Padahal Indonesia negeri yang sejahtera, dengan kekayaan laut dan darat yang tak terhingga. Mungkin ada yang salah dengan manusianya, mungkin bukan alam yang tidak memihak kita, namun bagaimana kita mengolah kekayaan alam inilah yang menjadi pokok persoalannya. Bila kita melihat lebih jauh, negeri ini tidak hanya punya SDA yang memadai, tapi SDM-nya juga mendukung. Selain kuantitas penduduk Indonesia yang tinggi, sejatinya bangsa kita mencetak para cendekia-cendekia yang tidak kalah dengan Negara-negara barat.

Sebut saja BJ Habibie, mantan presiden RI ke-3 yang merupakan jenius asli Indonesia, dengan kemampuannya merakit pesawat terbang, dimana kualitasnya tidak kalah dengan pesawat buatan Negara-negara barat. Bahkan Indonesia selalu berprestasi tingkat Internasional dalam ajang-ajang olimpiade science; Fisika, Kimia, Matematika. Anehnya, tidak sedikit orang-orang pintar itu tidak memakai ilmunya dalam koridor yang benar, dalam artian pro rakyat, yang mengutamakan kesejahteraan bangsa Indonesia. Para pemimpin-pemimpin kita, birokrat-birokrat kita, masih sibuk memenuhi kantong-kantongnya sendiri, bahkan melupakan amanah yang sebenarnya diemban sebagai wakil rakyat, pelayan masyarakat.

Sangat miris ketika media-media massa menyoroti perilaku mereka yang sangat tidak pantas tersebut. Para wakil rakyat yang sibuk dengan urusannya sendiri itu sepertinya lupa akan hakikat amanah yang diberikan rakyat padanya untuk membela kebenaran, keadilan, memperjuangkan kesejahteraan atas nama rakyat dan bangsa Indonesia. Kemanakah janji-janji yang selama ini dilontarkan ketika masa kampanye dulu. Seakan-akan hanya sebatas penghibur masyarakat yang mendambakan kesejahteraan tanpa adanya realisasi. Masyarakat selama ini hanya menjadi penonton dalam panggung sandiwara para pemain-pemain elite politik. Sebagai penonton yang terbawa suasana, masyarakat seringkali tidak tau yang sebenarnya terjadi, karena dalang-dalang yang bermain dibelakang layar tidak akan penah menampakkan aslinya.

“Sesungguhnya Allah tidak akan merubah nasib suatu kaum, sebelum mereka mengubah nasib mereka sendiri” (QS.Ar-Ra’d;11)

Negeri ini butuh komitmen, komitmen dari para birokrat, korporat, dan masyarakat untuk bersama-sama membangun Indonesia. Bukankah sudah lewat masa-masa penjajahan yang menyengsarakan rakyat. Jika memang kita sudah merdeka, maka kita harus tunjukan pada dunia bahwa Indonesia mandiri, merdeka dan berdaulat. Seharusnya, catatan-catatan hitam perjalanan bangsa ini tidak terus mengendap dan diulangi, melainkan dijadikan pelajaran untuk mencari solusi perbaikan.

“Tidak ada revolusi besar dalam sejarah modern tanpa kaum intelektual; sebaliknya tidak ada gerakan kontra revolusioner tanpa kaum intelektual” (Edward Said)

Sejatinya ketika suatu bangsa masih terdapat kaum intelektual, maka bukan tidak mungkin perubahan itu terjadi, namun bisa jadi sebaliknya. Dan di negeri ini, sama sekali tidak kekurangan kaum intelektual karena tiap tahun, perguruan tinggi meluluskan ribuan sarjananya. Namun, pastinya tidak semua lulusan sarjana itu berpikir untuk bangsanya padahal masyarakat masih mengharapkan perubahan berasal dari kaum intelektual (red mahasiswa).

Sebagai mahasiswa yang idealis, yang pernah meneriakkan kebenaran dijalan-jalan, maka kancah yang sebenarnya adalah ketika masuk dalam ranah masyarakat. Mungkinkah kita menjadi birokrat yang selama ini kita kritik, atau mungkinkah kita tetap idealis, dan berusaha memperjuangkan rakyat kita. Pertanyaan yang harus kita ingat benar-benar, karena sebenarnya Indonesia tidak butuh orang pintar saja, tapi Indonesia butuh orang pintar yang bermoral, berprinsip, dan senantiasa berjuang untuk perbaikan negeri ini.

Agent of Change, Social Control, Iron Stock, tiga fungsi mahasiswa tersebut semoga saja bukan sekedar teori yang memenuhi catatan-catatan kita, dan terus berkelebat dalam ingatan-ingatan kita, melainkan sebagai landasan untuk kita terapkan dalam kehidupan berbangsa dan bermasyarakat. Indonesia tidak bisa menunggu lama, perubahan dan perbaikan adalah agenda yang mendesak. Mari kita lukis negeri ini dengan coretan-coretan prestasi, coretan harapan, perubahan, perbaikan menuju kesejahteraan rakyat dan bangsa Indonesia. . .

Amelia D.M.

+dKP EM UB 2010