Release Aksi Impor Beras di Hari Pangan se Dunia

Presiden Soekarno berpidato bahwasanya pangan adalah hidup matinya sebuah bangsa. Ketika ada sebuah bangsa yang masih menggantungkan pangannya terhadap bangsa lain, maka tunggulah kehancuran negara tersebut. Dari pidato tersebut, kita ketahui bersama bahwa pangan merupakan sektor fundamental bagi kemajuan sebuah bangsa. Ibarat sebuah mesin, bangsa ini perlu bahan bakar yang cukup agar roda kebangsaan terus dapat bergerak. Pada hakikatnya, tidak akan ada sebuah bangsa yang besar jika masih banyak rakyatnya yang lapar dan lemah. Sehingga ketahanan pangan menjadi isu krusial bagi kelangsungan sebuah bangsa. Sesungguhnya ketahanan pangan merupakan kondisi terpenuhinya pangan bagi setiap rumah tangga, yang tercermin dari tersedianya pangan yang cukup baik jumlah maupun mutunya, aman, merata, dan terjangkau. Pada konteks ini, sebagai bangsa kita perlu bertanya apakah hak rakyat atas pangan sudah terpenuhi dengan baik? Salah satu indikator untuk mengukur ketahanan pangan adalah ketergantungan ketersediaan pangan nasional terhadap impor

Dalam beberapa bulan ini, pemerintah berencana akan melakukan impor beras sebanyak 300.000 ton. Hal ini tentu kontradiktif dengan pernyataan pemerintah yang menyatakan bahwa tahun 2010 Indonesia swasembada beras dengan surplus mencapi 5,6 juta ton sehingga cukup hingga bulan Februari 2011. Memang impor tidaklah haram karena tujuan impor sejatinya bisa untuk memenuhi kebutuhan atau menjaga cadangan beras. Namun, apakah pemerintah telah menjalankan pola manajemen impor secara efektif dan efisien, belum tentu. Jika seperti itu kondisinya, bukankah pemerintah terlalu terburu-buru melakukan impor beras. Padahal, masih banyak wilayah-wilayah yang belum dan akan segera panen. Secara rasional, impor beras mengacaukan harga beras yang beberapa bulan ini sudah relatif stabil. Kebijakan impor beras mengindikasikan bahwa bergining position menteri pertanian masih terlalu lemah. Di samping itu, ada pula pihak yang bermain dalam kebijakan impor beras karena di dalam pelaksanaannya akan selalu ada selisih marjin yang relatif besar.

Ketahanan pangan merupakan suatu sistem yang terdiri atas subsistem ketersediaan, distribusi dan konsumsi. Kinerja dari masing-masing subsistem tersebut tercermin dalam hal stabilitas pasokan pangan, akses masyarakat terhadap pangan, serta pemanfaatan pangan (food utilization) termasuk pengaturan menu dan distribusi pangan dalam keluarga. Kinerja dari ketiga subsistem ketahanan pangan akan terlihat pada status gizi masyarakat.

Oleh karena itu, kami dari BEM Seluruh Indonesia menuntut :

  1. BULOG harus pro petani dengan menyerap beras hasil petani secara optimal, memperbaiki kinerja dan kebijakan perberasan di Indonesia.
  2. Menteri Pertanian RI harus tegas dalam setiap pengambilan keputusan terkait persoalan pangan sehingga memiliki posisi tawar yang kuat di dalam penyusunan kebijakan.
  3. Dewan Perwakilan Rakyat harus secepatnya menyetujui peningkatan angagaran di Bidang pertanian.
  4. Presiden SBY harus memiliki political will terhadap persoalan pangan yang kuat sehingga mampu menkoordinasikan para pembantunya untuk membuat kebijakan-kebijakan yang pro rakyat, salah satunya dengan mengembalikan fungsi bulog sebagai stabilitator harga beras nasional dan mengarahkan kementerian-kementerian lain yang mengurusi pangan untuk mendorong sektor pertanian dalam mengatasi permasalahan pangan.

Pada hakikatnya, gerakan mahasiwa adalah sebuah usaha untuk mengingatkan penguasa agar senantiasa bersungguh-sungguh dalam menjalankan amanahnya. Semoga momentum hari pangan mengingatkan kita semua bahwa pangan merupakan hidup matinya sebuah bangsa dan pemerintah harus berkomitmen untuk memenuhi kebutuhan pangan masyarakat Indonesia dalam rangka mensejahterakan rakyat Indonesia.

Hidup Mahasiswa…

Hidup Petani Indonesia…

Hidup Rakyat Tertindas Indonesia!!!!